Kisah Pilu Warga Wuhan Bertahan Hidup saat Wabah Virus Korona: Lebih Baik Kami Mati di Rumah

Nathania Riris Michico
Pejalan kaki mengenakan masker saat menyeberang jalan di Hong Kong pada 3 Februari 2020, sebagai langkah pencegahan setelah wabah virus korona menyebar. (FOTO: ANTHONY WALLACE / AFP)

"CT scan menunjukkan paru-paru mereka terinfeksi. Adik saya juga batuk-batuk dan kesulitan bernafas. Ayah saya demam tinggi. Suhunya 39,3C kemarin dan dia terus-menerus batuk dan kesulitan bernafas," kata dia.

Dia pun membelikan sang ayah mesin oksigen di rumah, yang digunakan selama 24 jam sehari, 7 hari sepekan.

"Dia minum obat-obatan China dan Barat saat ini. Tidak ada rumah sakit yang bisa dia kunjungi karena kasusnya belum dikonfirmasi karena kurangnya alat tes," tuturnya.

Ibu dan bibi Wang berjalan kaki ke rumah sakit setiap hari dengan harapan ayahnya bisa dirawat inap, meskipun mereka juga sedang tidak sehat. Tetapi tidak ada rumah sakit yang mau merawatnya.

Di Wuhan, ada banyak tempat karantina untuk mengakomodasi pasien yang menunjukkan sedikit gejala atau masih dalam masa inkubasi. Ada beberapa fasilitas sederhana dan sangat mendasar di sana.

Editor : Nathania Riris Michico
Artikel Terkait
Internasional
8 jam lalu

Perusahaan China Tawarkan Wisata Luar Angkasa, Tiket Rp7,2 Miliar per Orang

Internasional
3 hari lalu

Latihan Perang Gabungan dengan Rusia-China, Iran Tunjukkan Otot kepada AS dan Israel

Internasional
3 hari lalu

Nah! Iran Akan Gelar Latihan Perang dengan China dan Rusia, Peringatan untuk AS

Nasional
4 hari lalu

Perusahaan Raksasa Global bakal Kumpul di Jakarta, dari Huawei hingga Alibaba!

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal