“Iya tapi buat apa?” tanya Ayah.
“Aku menunggu Papa pulang buat ajak Papa main, satu jam saja. Mama bilang kalau waktu Papa sangat berharga, jadi akum au beli waktu Papa. Aku buka tabunganku, tapi cuma ada uang Rp30.000. Karena uang tabunganku tidak cukup, aku mau oinjam Rp10.000 dari Papa.
Mendengar permintaan anaknya, Ayah langsung terdiam, terenyuh, dan menangis. Ia memeluk anaknya sambil menangis dan minta maaf.
Ibuku hanya memiliki satu mata. Ketika aku tumbuh dewasa, aku membencinya karena hal itu. Aku benci terhadap perlakuan kawan-kawanku di sekolah. Aku benci bagaimana anak-anak lain menatapnya dan memalingkan muka dengan jijik.
Ibuku bekerja dengan dua pekerjaan untuk menafkahi keluarga, tetapi aku justru malu dengan keadaannya dan tidak ingin terlihat sedang bersamanya.
Setiap kali ibu datang ke sekolah, rasanya aku ingin dia menghilang. Aku merasakan gelombang kebencian terhadap wanita yang membuatku menjadi bahan tertawaan di sekolah. Pada suatu waktu, ketika aku ingin meluapkan kemarahan ekstrim, aku bahkan pernah mengatakan kepada ibu bahwa aku ingin dia mati.