Waktu itu, kebetulan aku ikut Ayah membayar pajak motor di mobil samsat keliling. Saat datang, antrean sudah panjang. Begitu datang, kamu disambut Kakek Tukang Parkir yang tangannya hanya satu. Aku terharu melihatnya membantu ayah memarkirkan motor dengan susah payah.
Saat sedang menunggu, terdengar suara yang cukup keras, “Den, minya belas kasihan, Den.” Aku menoleh mencari arah sumber suara. Pandanganku berhenti ke sosok ibu berpakaian agar lusuh. Rupanya, dia mengenis kepada orang-orang yang sedang antre.
Satu per satu orang dia datangi. Tiba-tiba, pandanganku tertuju pada jari manis Pengemis itu. Di jarinya melingkar sebuah cincin lumayan besar. Kepalaku jadi geleng-geleng melihat tingkah laku Pengemis itu.
Benarkah dirinya kekurangan sehingga mengharuskannay mengemis seperti itu? Tiba-tiba, kulihat si Ibu Pengemis itu mendatangi Kakek Tukang Parkir tadi dan meminta belas kasihan.
Kulihat Kakek Tukang Parkir itu mengeluarkan uang sepuluh ribu, lalu memberikannya kepada pengemis. Hatiku sungguh terkejut melihat kebaikan Kakek Tukang parkir itu. Bagaimana bisa si Ibu Pengemis itu tega meminta uang kepada Kakek Tukang Kayu Parkir yang sudah susah payah bekerja, apalagi kondisi tangannya hanya satu.