“Daripada menonton dalang yang kalian lihat itu, mending nonton wayangannya Ki Narto Sabdo.”
“Hlo, memangnya dalam waktu dekat ini Ki Narto Sabdo mau mengadakan pagelaran wayang kulit?”
“Kabarnya sih gitu?”
“Wah, kalau yang wayangan Ki Narto Sabdo, saya nggak mau lihat. Takut,” kata teman saya.
“Hlo, kenapa? Bukannya beliau dalang yang hebat?”
“Memang sih. Beliau memang salah satu dalang terhebat. Tapi beliau sudah wafat bertahun-tahun yang lalu. Kalau beliau tanggapan lagi kan serem.”
Seketika Anjar pucat dan pamit pergi. Sepeninggal Anjar kami cekikian bersama.
Farhan pulang dari sekolah dengan wajah lesu dan lemas, tak lama kemudian Ucok datang dan bertanya mengenai ujiannya.
“Bagaimana ujiannya, Farhan ?” tanya Ucok.
“Farhan dapat 10 soal tapi cuma 1 soal yang jawabannya betul, Cok,” jawab Farhan.
“Gak apa-apa yang penting kamu sudah isi semua soalnya Farhan,” Ucok menghibur Farhan.
“Maksudnya, saya tadi cuma mengerjakan satu soal dan yang sembilan lagi enggak,” tutur Farhan.
Setelah lulus dari perguruan tinggi, Fathan menemukan salah satu pamannya yang sangat kaya dan tidak memiliki anak, meninggal dan meninggalkan banyak uang untuknya, jadi dia memutuskan untuk mendirikan agen perumahannya sendiri.