Ia tahu perjalanan itu bukan wisata. Ia menuju ketinggian dengan kadar oksigen yang menipis, suhu jauh di bawah nol, serta risiko yang menuntut setiap langkah diperhitungkan demi keselamatan.
Ekspedisi itu kemudian membawa Merah Putih ke atap dunia. Namun, ada hal yang lebih menarik dari pencapaian tersebut. Setiap kali berbicara tentang Everest, Iwan menghindari diksi “menaklukkan”.
Baginya, manusia terlalu jumawa jika merasa mampu menaklukkan alam. Orang yang pernah berhadapan dengan suhu ekstrem, kekurangan oksigen, badai, dan jurang akan memahami bahwa di hadapan alam, pangkat, jabatan, dan kekuatan manusia hanyalah titik kecil.
Barangkali, itulah pelajaran terpenting yang dibawa Iwan pulang dari Himalaya: pencapaian tidak memberi alasan untuk meninggikan diri.
Sepulang dari ekspedisi, persinggungan saya dengan Iwan masuk ke urusan buku. Suatu hari, ia mampir ke kantor saya di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan. Ia membawa bahan tulisan tentang perjalanan ke Everest. Saat itu, saya bekerja sebagai redaktur tabloid Wanita Indonesia, yang didirikan oleh Ibu Hardiyanti Rukmana, sekaligus bergelut di dunia percetakan. Saya pun ikut bersentuhan di balik layar dalam proses penerbitan buku perjalanan ekspedisi tersebut.