Ada cerita yang barangkali tidak banyak diketahui orang. Doni pernah ingin menarik Iwan ke BNPB untuk memimpin pusat pendidikan dan latihan. Pikiran Doni sederhana: bencana tidak boleh ditangani oleh orang yang tidak terlatih. Ia menginginkan kultur pendidikan, disiplin, kesiapsiagaan, dan profesionalisme yang kuat di lingkungan BNPB. Nama Iwan termasuk yang ada dalam pikirannya.
Namun, aturan penempatan perwira aktif di lembaga sipil ketika itu membuat gagasan tersebut tidak terwujud.
Persahabatan, bagaimanapun, tidak mengenal surat keputusan. Ketika Iwan dipercaya menjadi Danjen Kopassus, saya sedang berada di Bengkulu bersama Doni, bersiap menuju Pulau Enggano dalam kapasitas Doni sebagai Ketua Persatuan Purnawirawan AD. Begitu kabar itu datang, saya langsung melakukan panggilan video. Doni dan saya mengucapkan selamat kepadanya.
Hari ini, saya seperti mengalami kembali suasana yang sama. Bedanya, perjalanan telah jauh berubah. Letnan muda yang dahulu berlatih di Cijantung dan menghadapi dinginnya Himalaya kini memimpin Kostrad.
Cakra Kostrad
Bagi seorang prajurit infanteri, Kostrad tentu bukan sekadar jabatan. Di sana bertemu berbagai tuntutan: kesiapan pasukan, mobilitas, kecepatan mengambil keputusan, profesionalisme, dan kemampuan membaca perubahan medan operasi. Kekuatan besar menuntut tanggung jawab yang sama besarnya.