Posisi Iwan hari ini saya lihat sebagai base camp baru. Dalam pendakian, mencapai ketinggian tidak berarti tugas selesai. Seorang pemimpin ekspedisi masih harus membaca cuaca, menjaga logistik, memastikan anggota tim tetap kuat, menentukan kapan harus maju dan berhenti, bahkan kapan harus turun demi keselamatan bersama.
Seorang panglima pun demikian.
Pangkat boleh berbintang tiga. Pasukan yang dipimpin bisa ribuan. Namun, ukuran kepemimpinan bukan hanya seberapa tinggi posisi komandonya. Ukurannya adalah apakah prajurit menjadi semakin profesional, satuan semakin tangguh, kehormatan institusi tetap terjaga, dan seluruh kekuatan diabdikan bagi negara serta rakyat.
Di situlah kepemimpinan menemukan maknanya: bukan sekadar berada di depan barisan, melainkan memastikan seluruh barisan memiliki arah, daya tahan, dan keyakinan untuk menyelesaikan tugas bersama.
Everest pernah berdiri di hadapan Iwan sebagai gunung. Kopassus adalah rumahnya. Tanjungpura menjadi wilayah pengabdiannya. Pussenif menjadi tempat menjaga ruh infanteri. Kini, medan berikutnya bernama Kostrad.
Di balik tiga bintang di pundaknya, bagi saya, Iwan tetaplah letnan muda yang saya kenal sejak dulu: prajurit yang belajar dari Everest bahwa pencapaian tidak mengubah kedekatan seseorang dengan bumi.