Kondisi ini terjadi setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga secara kumulatif 100 basis poin sejak Mei untuk menahan tekanan terhadap rupiah dan menarik kembali modal asing.
Rupiah pernah menyentuh rekor terendah Rp18.190 per dolar Amerika Serikat pada 8 Juni 2026. Tekanan tersebut bukan semata-mata akibat faktor global, tetapi juga dipengaruhi kekhawatiran pasar mengenai kesehatan fiskal, konsistensi kebijakan pemerintah, dan independensi bank sentral.
Dalam situasi seperti itu, pengunduran diri gubernur BI berpotensi menciptakan tambahan premi ketidakpastian. Investor tidak langsung menunggu penjelasan panjang mengenai alasan pribadi atau dinamika internal.
Mereka akan lebih dahulu menilai apakah kebijakan moneter tetap konsisten, apakah intervensi valuta asing dilanjutkan, dan apakah pengganti Perry memiliki kewenangan serta independensi yang memadai.
Respons pertama pasar biasanya bersifat defensif. Investor dapat mengurangi kepemilikan aset rupiah, menahan pembelian surat utang negara, atau memindahkan sebagian dana ke aset dolar.