"Nah, sehingga dengan adanya Kongres Gerakan Pemuda Marhaenis ini, mari kita luruskan sejarah. Karena terbukti, selama masa Orde Baru dan selama masa reformasi sampai saat ini, karena diskursus tentang marhaenisme ini seperti lenyap, karena dilarang oleh kekuasaan, karena dianggap sama dengan komunisme," kata Hasto.
Sementara itu, Ketua Umum DPP GPM Izedrik Emir Moeis mengatakan organisasinya telah melakukan konsolidasi dengan sejumlah dewan pimpinan daerah (DPD). GPM juga menjalankan program pendidikan dan pengembangan kebudayaan untuk memperkenalkan marhaenisme kepada generasi muda.
Emir mengaku menulis buku berjudul Marhaenisme dan Visi Sosialisme Indonesia untuk membantu memperluas pemahaman mengenai gagasan tersebut. Menurutnya, pengetahuan mahasiswa tentang marhaenisme masih perlu diperkuat.
"Nah, dari pendidikannya inilah saya melihat dan saya mendengarkan. Saya membuat sebuah buku, judulnya 'Marhaenisme dan Visi Sosialisme Indonesia.' Saya coba bagikan ke umur-umur mahasiswa lah. Tapi kalau berdiskusi, ya kan, kawan-kawan tentang Marhaenisme tuh sangat cetek ya," ucap Emir.
Emir memaklumi kondisi tersebut. Dia menilai marhaenisme tidak banyak dibicarakan pada masa Orde Baru dan menyebut penggunaan istilah tersebut kala itu dibatasi.
"Sekarang kita pakai lagi kata Marhaenisme, enggak ada yang bisa sandung lagi, dan tujuan utama, sebagaimana saya sempat ngomong juga dengan anak-anak proklamator dan penggerak Marhaenisme, dan yang hebat, tentulah generasi saya," ujar Emir.