Kisah Pendiri Evergrande: Lahir Miskin, Pernah Jadi Orang Terkaya Kini di Ambang Bangkrut

Aditya Pratama ยท Minggu, 26 September 2021 - 16:50:00 WIB
Kisah Pendiri Evergrande: Lahir Miskin, Pernah Jadi Orang Terkaya Kini di Ambang Bangkrut
Kisah pendiri Evergrande: Lahir miskin, pernah jadi orang terkaya kini di ambang bangkrut

BEIJING, iNews.id - Pendiri raksasa properti di China, Evergrande, Xu Jiayin atau Hui Ka Yan pernah menjadi orang paling kaya di China pada 2017, dengan kekayaan sebesar 47 miliar dolar AS. Saat itu, Xu melengserkan pendiri Alibaba, Jack Ma dalam peringkat orang terkaya di negara itu. 

Namun kini, dia berada di ambang kebangkrutan. Evergrande adalah pengembang properti dengan utang terbesar di dunia mencapai lebih dari 300 miliar dolar AS atau sekitar Rp4.281 triliun. Namun masalahnya saat ini bukan pada jumlah utang yang besar, melainkan krisis likuiditas yang dihadapinya, yang menciptakan kesulitan besar dalam membayar kembali utang-utang tersebut. Kekhawatiran kebangkrutan Evergrande yang akan menyeret seluruh sektor properti membuat investor seluruh dunia gelisah. 

Nilai total saham Evergrande telah jatuh dari 40 miliar dolar AS pada tahun lalu menjadi kurang dari 4 miliar dolar AS. Evergrande telah kehilangan 84 persen dari nilai pasarnya tahun ini, sehingga menurut Forbes, kekayaan Xu menyusut menjadi 11,1 miliar dolar AS atau Rp158,4 triliun. 

Mengutip Morning Express, sebagai salah satu orang paling tajir di China, Xu lahir di sebuah desa kecil di Henan pada 1958 dari keluarga yang sangat miskin. Dia kehilangan ibunya beberapa bulan setelah dilahirkan. Kemudian nenek dari pihak ayah mengambil alih pengasuhan karena ayahnya yang merupakan veteran perang harus bekerja di sebuah gudang.

Dia menjalani kehidupan masa kecil saat China mengalami bencana ekonomi dan kelaparan. Akibatnya, Xu kecil selalu merasa kelaparan. Sepanjang masa kecilnya, dia hanya makan ubi jalar dan roti kukus. Karena serba kekurangan, dia tak pernah membeli pakaian baru. Pakaian yang dikenakan penuh dengan tambalan di mana-mana. 

"Benar-benar ditambal di semua tempat dan yang saya makan hanya ubi jalar dan roti kukus. Saya ingin meninggalkan desa secepatnya, mencari pekerjaan di kota dan bisa makan lebih baik," kenang dia. 

Tak lama setelah revolusi budaya berakhir pada 1977, Xu mencoba mendaftar di universitas tapi gagal. Tahun berikutnya, dia mencoba lagi dan berhasil diterima di Wuhan Institute of Iron and Steel. 

Dosennya, Meng Xiankun mengingat Xu sebagai mahasiswa yang banyak bicara dan mudah bergaul. Bahkan, dia ditunjuk sebagai komisioner kesehatan kelas. 

"Dia tidak pernah mengeluh," ucap Meng dan menambahkan Xu memiliki kemampuan yang baik untuk berteman, dikutip dari The Guardian.

Editor : Jujuk Ernawati

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel: