Imam Nahrawi Juga Didakwa Terima Gratifikasi Rp8,6 Miliar, Ini Perinciannya

Riezky Maulana ยท Jumat, 14 Februari 2020 - 15:24 WIB
Imam Nahrawi Juga Didakwa Terima Gratifikasi Rp8,6 Miliar, Ini Perinciannya

Eks Menpora Imam Nahrawi menjalani sidang perdana kasus suap dana hibah KONI di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat (14/2/2020). (Foto: iNews.id/Kimau)

JAKARTA, iNews.id – Selain didakwa menerima suap, eks Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi juga didakwa menerima gratifikasi berupa uang sejumlah Rp8,6 miliar. Uang itu diterima Nahrawi melalui asisten pribadinya, Miftahul Ulum, dan tercatat dalam rentang waktu Tahun 2014 hingga 2019.

“Telah melakukan atau turut serta melakukan beberapa perbuatan yang harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan, yaitu telah menerima gratifikasi berupa uang sejumlah Rp.8.648.435.682,” kata jaksa penuntut umum (JPU) pada KPK, Ronald Worotikan, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat (14/2/2020).

Setidaknya, menurut dia, terdapat lima sumber dana yang diterima Ulum untuk diserahkan kepada Nahrawi. Adapun sumber penerimaan dana tersebut berasal dari sejumlah pejabat Kemenpora dan pejabat Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

Pertama, Nahrawi menerima uang sebesar Rp300 juta dari Sekretaris Jendral KONI, Ending Fuad Hamidy. Uang itu, diperuntukan sebagai biaya operasional tambahan untuk Nahrawi ketika berkegiatan di acara Muktamar NU di Jombang, Jawa Timur.

Tetapi sebelumnya, Miftahul Ulum diketahui sempat ingin berbuat nakal ketika bertemu dengan Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora) saat itu, Alfitra Salamm. Ulum diduga meminta sejumlah uang kepada Alfitra dan pertemuan dilangsungkan di ruangan sesmenpora.

Miftahul Ulum meminta kepada Alfitra Salamm menyiapkan uang untuk Nahrawi sejumlah Rp5 miliar sambil mengatakan “Pak Ses (Alfitra), mau lanjut enggak? Kalau mau, siapkan uang 5 M (Rp5 miliar) secepatnya,” ucap jaksa Ronald menirukan ucapan Ulum. Namun, Alfitra belum memutuskan untuk memberikan uang tersebut.

Sumber dana kedua, Nahrawi menerima uang sebesar Rp4,9 miliar dari Lina Nurhasanah selaku bendahara pengeluaran pembantu (BPP) Program Indonesia Emas (Prima) Kemenpora periode 2015-2016. Uang itu, diperuntukkan sebagai dana operasional tambahan perjalanan dinas Imam Nahrawi.

Uang tersebut, diterima politikus PKB itu melalui Ulum secara bertahap dengan total 38 kali pemberian. Adapun pemberian itu, dilakukan dalam rentang waktu Tahun 2015 sampai 2016.

Ketiga, Nahrawi kembali menerima uang sebesar Rp2 miliar dari Lina Nurhasanah. Namun, uang itu diperuntukkan sebagai pelunasan pembayaran jasa desain konsultan arsitek untuk renovasi rumah Nahrawi dan juga usaha butik serta kafe sang istri, Shobibah Rohmah. Uang yang diberikan Lina kepada Ulum berasal dari dana akomodasi atlet pada anggaran Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima).

Lalu yang keempat, Nahrawi menerima uang sebesar Rp1 miliar dari Edward Taudan Pandjaitan alias Ucok selaku pejabat pembuat komitmen (PPK) pada program Satlak Prima Kemenpora Tahun Anggaran 2016-2017.

Aliran dana yang terakhir atau kelima, Nahrawi diduga menerima uang sebesar Rp400 juta dari Supriyono selaku BPP Peningkatan Prestasi Olahraga Nasional (PPON) periode 2017-2018. Uang itu kembali diterima melalui Ulum, dengan diberikan di sekitar halaman parkir Kantor Kemenpora pada 2018.

“Uang itu, diberikan untik honor dalam kegiatan Satlak Prima. Padahal, program tersebut telah resmi dibubarkan pada Oktober 2017,” ucap jaksa.

Atas perbutannya, Imam dianggap melanggar Pasal 12B ayat 1 juncto Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP juncto Pasal 65 ayat 1 KUHP.


Editor : Ahmad Islamy Jamil