Jaksa Kejari Yogyakarta Eka Safitra Diduga Terima Suap Rp221,7 Juta

Ilma De Sabrini ยท Selasa, 20 Agustus 2019 - 21:04 WIB
Jaksa Kejari Yogyakarta Eka Safitra Diduga Terima Suap Rp221,7 Juta

Juru Bicara KPK Febri Diansyah (kiri) dan Wakil Ketua KPK Alexander Marwata memberikan keterangan pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (20/8/2019). (Foto: Antara/Rivan Awal Lingga).

JAKARTA, iNews.id - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Eka Safitra sebagai tersangka kasus suap lelang proyek pada Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PUPKP) Kota Yogyakarta tahun anggaran 2019. Dalam kasus ini, Eka diduga menerima uang Rp221.740.000 dari tersangka Gabriella Yuan Ana.

Wakil Ketua KPK Alexander Marwata menerangkan, Eka diduga telah bermufakat jahat dengan PT Manira Arta Rama Mandiri selaku pihak yang akan mengikuti lelang proyek di Dinas PUPKP. Permufakatan jahat ini telah menimbulkan kerugian negara.

"ESF bersama-sama dengan Direktur Utama PT Manira Arta Mandiri GYA (Gabriella Yuan Ana), Direktur NVA (Novi Hartono); dan Komisaris NAB melakukan pembahasan langkah-langkah agar perusahaan GYA dapat mengikuti dan memenangkan lelang," kata Alex saat konferensi pers di kantor KPK, Jakarta, Selasa (20/8/2019).

BACA JUGA: KPK Tetapkan Dua Jaksa Tersangka Suap Lelang Proyek di Dinas PUPKP Yogyakarta

Untuk memuluskan perusahaan itu memenangkan lelang, maka mereka mengatur apa saja syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mengikuti lelang. Bahkan mereka juga bersengkongkol untuk menentukan besaran Harga Perkiraan Sendiri (HPS).

Besaran harga penawaran itu disesuaikan dengan spesifikasi atau persyaratan yang dimiliki oleh PT Manira Arta Rama Mandiri. Sampai-sampai, mereka juga menentukan berapa perusahaan yang akan digunakan untuk mengikuti lelang untuk proyek tersebut.

"ESF selaku tim TP4D kemudian mengarahkan ALN (Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPKP Aki Lukman Nor Hakim) untuk menyusun dokumen lelang dengan memasukkan syarat harus adanya Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja dan penyediaan Tenaga Ahli K3," tuturnya.

Alex menjelaskan, Eka diduga juga membatasi jumlah perusahaan yang mengikuti lelang. Hal itu bertujuan agar PT Manira Arta Rama Mandiri dapat memenuhi syarat dan memenangkan lelang.

Setelah gelar perkara, KPK menemukan bahwa untuk memenangkan proyek itu Gabriella Yuan menggunakan bendera perusahaan lain yaitu PT Widoro Kandang (PT WK) dan PT Paku Bumi Manunggal Sejati (PT PBMS) untuk mengikuti lelang.

Pada akhirnya pada 2019 PT Widoro Kandang memenangkan lelang dengan kontrak senilai Rp8,3 miliar. "Diduga komitmen fee yang sudah disepakati sebesar 5 persen dari nilai proyek," ucapnya.

KPK membeberkan ada 3 kali pemberian uang dari Gabriella kepada Eka yakni pada 16 April 2019 sebesar Rp10 juta, pada 15 Juni 2019 sebesar Rp100.870.000 dan pada 19 Agustus 2019 sebesar Rp110.870.000. Dengan demikian total penerimaan Eka dari Gabriella sejumlah Rp221.740.000.

"Sedangkan sisa fee 2 persen direncanakan akan diberikan setelah pencairan uang muka pada minggu keempat bulan Agustus 2019," ucap Alex.

Persengkongkolan jahat antara Eka dengan Gabriella bermula dari perkenalan dengan Satriawan Sulaksono selaku Jaksa di Kejaksaan Negeri (Kejari) Surakarta.

Dari konstruksi perkara tersebut KPK menetapkan tiga orang tersangka yakni Eka Safitra dan Satriawal selaku penerima dan Gabriella Yuan Ana selaku pemberi.


Editor : Zen Teguh