Dari Dapur Nenek ke Panggangan Jepang, Perjalanan Chef Aman Lakhiani Menemukan Jati Diri
Di balik tampilannya yang sederhana, terdapat proses yang membutuhkan ketelitian. Para chef di Junsei menjalani pelatihan hingga satu tahun sebelum dipercaya menangani panggangan. Proses tersebut menunjukkan bahwa konsistensi dalam memasak tidak hanya bergantung pada resep, tetapi juga pada kemampuan membaca bahan, mengendalikan panas, dan memahami waktu.
Bagi Aman, perhatian terhadap detail juga melampaui makanan. Sebagai kolektor vinyl sejak kecil, dia memperlakukan musik sebagai bagian dari pengalaman bersantap yang dirancang dengan cermat.
Di Junsei, pilihan musik, interior kayu, dan sistem audio menjadi bagian dari suasana yang ingin dihadirkan. Musik tidak ditempatkan untuk mendominasi ruangan, tetapi menemani pengunjung menikmati makanan dan berbincang.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa ketertarikan Aman terhadap kuliner tidak hanya berkaitan dengan apa yang tersaji di piring, tetapi juga bagaimana orang menikmati makanan dan suasana di sekitarnya.
Setelah mendalami tradisi kuliner Jepang, perjalanan Aman memasuki babak baru melalui Lamuri, restoran yang berada di sebelah Tamba by Junsei di Bali. Berbeda dari Junsei yang berfokus pada yakitori, Lamuri mengeksplorasi hubungan kuliner India Selatan dan kepulauan Indonesia.