Dia juga menyoroti penyebaran film bajakan melalui Telegram. Menurutnya, grup-grup yang membagikan film secara ilegal, bahkan judul yang masih tayang di bioskop, dapat ditemukan melalui fitur pencarian di platform tersebut.
Ironisnya, sebagian grup tersebut tidak sekadar membagikan film secara gratis. Ada pula grup yang meminta pengguna membayar untuk mendapatkan keanggotaan. Fauzan turut menyinggung fitur Telegram Premium yang memungkinkan pengguna memperoleh akses lebih cepat ketika menonton konten.
Kondisi ini memperlihatkan pembajakan digital telah berkembang menjadi aktivitas yang berpotensi menghasilkan keuntungan bagi pihak-pihak yang terlibat. Praktik tersebut pun semakin sulit ditangani karena jaringan pelakunya tidak selalu berada di dalam negeri.
"Ini kan kejahatan transnasionalisme. Ini enggak bisa diselesaikan di sini," katanya.
Karena itu, Fauzan menilai pemberantasan pembajakan membutuhkan kerja sama lintas negara. Dia menyebut persoalan tersebut juga menjadi perhatian dalam forum industri perfilman internasional Lumière Summit yang dihadirinya.