Kekeringan dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan, tetapi bukan berarti kekeringan secara langsung menyebabkan ISPA.
Dokter Dicky menjelaskan, hubungan tersebut lebih banyak dimediasi oleh kualitas udara. Ketika hujan jarang turun, debu dan partikel polutan dapat lebih mudah terakumulasi di atmosfer karena tidak mengalami proses 'pencucian' oleh air hujan.
Kondisi tersebut dapat diperburuk oleh sumber polusi lain, termasuk emisi kendaraan bermotor di wilayah perkotaan seperti Jakarta.
"Ini yang mengiritasi epitel saluran napas. Daya tahan mukosanya menurun dan akhirnya lebih mudah terinfeksi oleh virus ataupun bakteri," jelasnya.
Karena itu, menurut dr. Dicky, arah risiko ISPA memang dapat meningkat ketika kondisi kering berlangsung, tetapi tidak tepat jika setiap kenaikan kasus ISPA langsung disimpulkan sebagai akibat kekeringan.