"Jadi, kekeringan tidak mengurangi risiko demam berdarah, justru berpotensi menaikkan. Karena perilaku adaptif masyarakat jadi kebiasaan menyimpan cadangan air dalam wadah terbuka saat krisis air," katanya.
Menurut dia, suhu yang lebih hangat juga dapat mempercepat perkembangan virus di dalam tubuh nyamuk sehingga berpotensi memengaruhi proses penularan penyakit yang ditularkan nyamuk.
"Ini yang sering luput dalam pemikiran masyarakat. Jadi banyak orang mengira musim kering sama dengan aman darinya, padahal justru pola penyimpanan air darurat yang salah itu yang akhirnya berisiko menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk," ujar dr. Dicky.
Karena itu, warga tetap perlu menguras dan membersihkan tempat penampungan air serta memastikan wadah penyimpanan tertutup rapat.
Dampak lainnya berkaitan dengan panas.
Kondisi kering dengan tutupan awan yang lebih minim dapat berkontribusi terhadap meningkatnya suhu udara. Dalam kondisi tersebut, masyarakat berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat panas, mulai dari dehidrasi, heat exhaustion, hingga heat stroke.