"Supaya ini juga masyarakat meresponsnya proporsional, tidak panik berlebihan tapi juga tidak menyepelekannya," ujarnya.
Masyarakat dapat memulai mitigasi dari langkah sederhana, terutama menggunakan air seperlunya dan tidak melakukan pemborosan. Warga juga perlu memastikan tempat penyimpanan air tetap bersih dan tertutup serta memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari sumber resmi.
BMKG sendiri memprediksi puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada periode Juli-September di berbagai wilayah Indonesia. BMKG juga mengingatkan pentingnya antisipasi terhadap dampak kemarau, termasuk ketersediaan air dan kesehatan masyarakat.
Dengan demikian, peringatan kekeringan di Jakarta bukan alasan untuk panik. Namun, kondisi tersebut menjadi momentum bagi masyarakat untuk mulai menghemat air sekaligus menjaga kesehatan sebelum dampaknya semakin meluas.