58 Tahun Lawan DBD, Kenapa Penyakit Ini Tak Kunjung Hilang dari Indonesia?

Muhammad Sukardi
Ilustrasi anak diserang nyamuk DBD. (Foto: Ilustrasi AI)

Penyakit ini juga tidak hanya muncul ketika musim hujan. Karena itu, kewaspadaan terhadap DBD perlu dilakukan sepanjang tahun, terutama dengan memperhatikan lingkungan yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk penular dengue.

Beban penyakit ini pun masih sangat besar.

Studi Burden of Disease yang dikembangkan Universitas Gadjah Mada memperkirakan terdapat lebih dari 2 juta rawat inap akibat DBD di Indonesia pada 2024. Beban ekonomi yang ditimbulkan diperkirakan mencapai hampir Rp9 triliun.

Angka tersebut tidak hanya menggambarkan biaya pengobatan. Di baliknya terdapat keluarga yang harus mendampingi anggota keluarga yang sakit, kehilangan waktu produktif, hingga menghadapi kekhawatiran ketika kondisi pasien memburuk.

DBD Bisa Terlihat seperti Demam Biasa

Dokter sekaligus kreator konten dr. Gia Pratama Putra mengatakan salah satu persoalan yang membuat dengue berbahaya adalah gejala awalnya dapat menyerupai penyakit demam lainnya.

Pasien bisa datang dengan kondisi yang pada awalnya terlihat seperti demam biasa. Padahal, perkembangan penyakit dapat berubah dengan cepat sehingga keluarga perlu melakukan pemantauan secara cermat.

Editor : Muhammad Sukardi
Artikel Terkait
2 hari lalu

Waspada! Kekeringan Jakarta September 2026 Bisa Jadi Surga Nyamuk DBD

1 bulan lalu

Anak-Anak Rentan Kena DBD, Kemenkes Minta Sekolah Jadi Garda Terdepan!

1 bulan lalu

Warning! Kematian akibat DBD Paling Banyak pada Anak Usia 5-14 Tahun

1 bulan lalu

Fakta Mengejutkan! 59% Kematian akibat DBD Terjadi pada Anak

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal