"Masalah jantung adalah pembunuh kedua di Indonesia dengan kematian setiap tahun lebih dari 250.000," ujar Budi.
Besarnya beban penyakit tersebut membuat pengembangan layanan gagal jantung tidak cukup hanya mengandalkan tindakan medis ketika kondisi pasien sudah berat.
Pasien perlu dikenali sejak lebih awal sehingga dokter dapat menentukan terapi yang sesuai dan melakukan rujukan sebelum terjadi penurunan kondisi yang semakin kompleks.
Dokter Arza menjelaskan, pasien yang terlambat mendapatkan penanganan dapat mengalami gangguan pada berbagai organ akibat menurunnya kemampuan jantung dalam memasok darah ke tubuh.
Situasi tersebut dapat memengaruhi peluang dan kompleksitas intervensi yang akan dilakukan. Karena itu, deteksi, pemantauan, dan sistem rujukan menjadi bagian penting dari layanan gagal jantung lanjut.