"Kalau dia ukurannya di atas 10 PM itu masih bisa dikeluarkan oleh sistem pembersihan tubuh, mucociliar clearance. Nah, cuma kalau dia ukuran sangat kecil dia pasti akan lolos masuk ke dalam, mengendap sampai ke kantong-kantong pernapasan atau yang dibilang alveolus," ujar dr Shinta.
Masuknya partikel kecil ke alveolus menjadi salah satu hal yang perlu diwaspadai. Dokter Shinta menjelaskan, kandungan silika pada abu vulkanik memiliki karakter tajam, sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan di bagian tersebut.
"Di situ karena abu vulkanik ini ada silika, silika ini dia sangat tajam. Dia satu komponen ataupun material yang sangat tajam yang bisa menembus ke dinding alveolus," kata dia.
Kerusakan tersebut, lanjut dr Shinta, dapat memicu terbentuknya jaringan parut atau sikatrik pada alveolus. Dalam kondisi paparan yang berlangsung lama, proses tersebut dapat berkembang menjadi fibrosis paru.
Dia juga menyebut silikosis dapat terjadi apabila seseorang mengalami pajanan abu vulkanik dalam waktu yang sangat lama.