Biayanya tidak berhenti di ruang transaksi keuangan. Biaya tersebut turun ke masyarakat dalam bentuk kredit yang lebih mahal, harga barang impor yang meningkat, ruang fiskal yang menyempit, serta ketidakpastian usaha.
Bukan Sekadar Dolar yang Menguat
Pada rapat Dewan Gubernur Juni 2026, Bank Indonesia tidak hanya menaikkan BI Rate. Bank sentral juga menyatakan akan meningkatkan intensitas intervensi melalui pasar non deliverable forward di luar negeri, transaksi spot, serta domestic non deliverable forward di dalam negeri.
Tingkat imbal hasil sekuritas Rupiah Bank Indonesia juga dijaga agar tetap menarik bagi investor asing. Semua ini menggambarkan besarnya tenaga moneter yang harus dikeluarkan untuk mempertahankan stabilitas rupiah.
Kebijakan tersebut diperlukan. Akan tetapi, intervensi moneter tidak dapat terus-menerus menjadi obat bagi masalah kredibilitas fiskal.
Pasar valuta asing tidak hanya membaca data inflasi dan suku bunga. Pasar juga membaca arah belanja pemerintah, kemampuan negara mengumpulkan penerimaan, kebutuhan penerbitan surat utang, konsistensi regulasi, serta hubungan antara pemerintah dan bank sentral.