Nilai tukar pada akhirnya merupakan semacam referendum harian terhadap kepercayaan. Ketika investor memperkirakan kebutuhan pembiayaan pemerintah akan semakin besar, mereka meminta imbal hasil yang lebih tinggi.
Ketika mereka meragukan kualitas belanja, risiko yang diminta juga meningkat. Ketika aturan berubah terlalu cepat atau program baru terus bermunculan tanpa perhitungan biaya jangka panjang, rupiah menanggung tambahan premi ketidakpastian.
Ini bukan argumentasi bahwa seluruh program pemerintah harus dihentikan. Program makan bergizi, pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, perumahan, dan perlindungan sosial dapat memiliki manfaat ekonomi yang besar.
Persoalannya adalah apakah setiap rupiah belanja benar-benar menghasilkan kenaikan produktivitas, atau sekadar memperbesar aktivitas anggaran dan keuntungan politik jangka pendek.
Belanja yang produktif memperkuat rupiah karena meningkatkan kapasitas produksi, ekspor, pendapatan masyarakat, dan penerimaan pajak di masa depan. Sebaliknya, belanja yang boros, tergesa-gesa, atau didorong target politik akan menaikkan kebutuhan pembiayaan tanpa memperkuat kemampuan ekonomi membayar kembali kewajibannya.