Negara memang membutuhkan keberanian membelanjakan anggaran untuk memperbaiki kesejahteraan. Akan tetapi, keberanian fiskal tanpa disiplin hanya memindahkan tagihan ke masa depan dan menyebarkannya kepada rakyat melalui harga, bunga, serta pajak.
Oleh karena itu, jalan keluar bukan meminta Bank Indonesia bekerja semakin keras mempertahankan rupiah. Jalan keluarnya adalah membuat kebijakan fiskal yang layak dipertahankan. Pemerintah harus memperkecil program yang boros, memperkuat penerimaan secara adil, membuka risiko anggaran secara jujur, dan memastikan setiap utang menghasilkan kemampuan ekonomi untuk membayarnya kembali.
Jika tidak, rupiah akan terus menjadi alat pembayaran bagi ambisi fiskal, sementara rakyat menjadi pihak yang menerima tagihannya.