Achmad Nur Hidayat
Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta
BERAPA mahal harga sebuah ambisi fiskal ketika nilai tukar mulai kehilangan pijakan? Pada 16 Juli 2026, kurs referensi JISDOR Bank Indonesia berada pada Rp18.041 per dolar AS. Sebulan sebelumnya, pada 17 Juni 2026, rupiah masih berada di sekitar Rp17.730 per dolar AS. Pergerakan ini terjadi setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen demi memperkuat stabilisasi rupiah.
Rupiah memang tidak terus merosot setiap hari, tetapi kegagalannya kembali menjauh dari level Rp18.000 menunjukkan bahwa tekanan belum benar-benar berakhir. Pemerintah tentu dapat menunjuk ketidakpastian global, konflik geopolitik, harga energi, tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat, dan penguatan dolar sebagai penyebab.
Semua faktor tersebut nyata. Akan tetapi, menjelaskan pelemahan rupiah hanya dengan menyalahkan dunia luar merupakan cara paling mudah untuk menghindari pertanyaan yang lebih penting: apakah kebijakan fiskal Indonesia sendiri telah menambah kegelisahan pasar?
Rupiah mulai membayar ambisi fiskal ketika pemerintah memperbesar belanja dan memperluas program prioritas tanpa memperlihatkan disiplin pemilihan program, sumber penerimaan yang berkelanjutan, serta batas yang tegas antara kebutuhan pembiayaan negara dan kewajiban bank sentral menjaga stabilitas mata uang.
Dalam keadaan seperti itu, Bank Indonesia akhirnya dipaksa bekerja lebih keras. Suku bunga dinaikkan, devisa digunakan untuk intervensi, instrumen moneter dibuat semakin menarik, dan likuiditas pasar obligasi pemerintah ikut dijaga.