Sebaliknya, organisasi perlu mendesain ulang pekerjaan dan alur kerja agar kemampuan AI dan manusia dapat digunakan secara bersamaan.
Perubahan tersebut juga mencakup peningkatan kapasitas tenaga kerja, transformasi fungsi sumber daya manusia (HR), desain ulang pekerjaan dan workflow, hingga perubahan budaya dan kepemimpinan.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli sebelumnya juga menekankan bahwa perkembangan teknologi dan AI membawa konsekuensi terhadap struktur pekerjaan sekaligus kebutuhan kompetensi tenaga kerja.
Menurut dia, penerapan AI perlu dibarengi strategi pengembangan manusia. Ada empat prinsip 'People-Centric AI' yang ditekankan, yakni memperkuat kemampuan manusia, melibatkan pekerja dalam proses transformasi, menjaga kendali manusia, serta mempersiapkan pekerja menghadapi perubahan.
"Alih-alih sekadar menggantikan pekerjaan, AI membentuk kembali pekerjaan dengan cara yang sangat berbeda," ujar Yassierli.