Kemampuan manusia dalam membangun visi, berinovasi, memahami hubungan sosial, menggunakan empati, serta mengambil keputusan dengan kebijaksanaan tetap menjadi bagian penting dalam organisasi.
"HI (Kecerdasan Manusia/Human Ingenuity) adalah tentang manusia. HI mencakup visi masa depan, inovasi di masa kini, emosi serta empati dalam menjalin hubungan, serta kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan dan penilaian," ujar Dave.
Seiring semakin luasnya pemanfaatan AI, perubahan 'workflow' juga membuat perusahaan perlu memperhatikan bagaimana teknologi tersebut dikelola.
CEO & CTO GDP LABS On Lee menekankan bahwa digitalisasi perlu menghasilkan dampak produktivitas yang dapat diukur. Karena itu, penerapan teknologi perlu disertai pemberdayaan pekerja, kendali manusia, tata kelola AI, keterampilan, kepercayaan, serta pengukuran nilai nyata dari teknologi.
Dengan demikian, pemanfaatan AI di dunia kerja tidak berhenti pada pertanyaan mengenai teknologi apa yang digunakan. Persoalan berikutnya adalah bagaimana teknologi tersebut ditempatkan dalam sistem kerja dan bagaimana manusia tetap memiliki peran dalam prosesnya.
Perubahan ini membuat AI tidak lagi sekadar menjadi alat untuk mengerjakan tugas tertentu. Teknologi tersebut mulai mendorong perusahaan untuk melihat kembali cara pekerjaan dirancang, bagaimana alurnya berjalan, serta bagaimana manusia dan AI dapat bekerja dalam satu sistem.