Menurutnya, Indonesia memiliki dua basis data tingkat populasi yang mencakup sekitar 280 juta jiwa. Melalui BGSI, pemerintah berupaya membangun basis data genomik populasi sebagai fondasi baru untuk mendukung pengembangan kedokteran presisi.
Data genomik tersebut penting karena setiap orang memiliki variasi genetik yang dapat memengaruhi risiko penyakit maupun respons terhadap pengobatan.
Di sinilah CRISPR bertemu dengan konsep precision medicine. Pengobatan masa depan semakin diarahkan untuk memahami penyakit berdasarkan karakteristik biologis dan genetik pasien, bukan sekadar berdasarkan nama penyakitnya.
Misalnya, dua orang dapat sama-sama mengalami penyakit tertentu, tetapi memiliki perubahan genetik yang berbeda. Respons keduanya terhadap suatu terapi pun bisa berbeda.
Dengan memahami profil genetik secara lebih mendalam, dokter dan peneliti memiliki peluang untuk menentukan pendekatan terapi yang lebih spesifik.