Dia berharap masyarakat tidak lagi memandang penyandang disabilitas mental sebelah mata. Sebab, kondisi kesehatan mental tidak serta-merta menghilangkan kemampuan seseorang untuk bekerja dan menghasilkan sesuatu.
"Yang terutama adalah mengurangi stigma negatif. Kami juga ingin menunjukkan bahwa penyandang disabilitas mental tetap punya harga diri dan masih bisa berkarya," ujarnya.
Rumah Berdaya sendiri mulai mendapatkan dukungan peralatan dan pelatihan dari Pertamina sejak 2022. Dukungan tersebut turut membantu kelompok mengembangkan kegiatan produksi hingga akhirnya mencoba memanfaatkan ampas kopi sebagai bahan baku dupa.
Bagi para anggota, kesempatan untuk bekerja dan menghasilkan sesuatu memiliki arti lebih dari sekadar memperoleh penghasilan. Ada ruang untuk belajar, berinteraksi, dan merasa menjadi bagian dari lingkungan sosial.
Di sela penyelenggaraan The 9th ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE) Conference and Exhibition 2026 di Bali, kisah para penyintas ini memperlihatkan sisi lain dari upaya pemberdayaan masyarakat.
Dari ampas kopi yang kerap berakhir sebagai limbah, mereka menunjukkan bahwa kesempatan berkarya bisa tumbuh dari hal sederhana. Yang dibutuhkan bukan tuntutan agar semua orang memiliki kemampuan sama, melainkan ruang dan kesempatan agar setiap orang bisa berkontribusi sesuai kapasitasnya.