Menkes Budi Soroti Layanan LVAD di Indonesia, Tak Ingin Hanya Terpusat di Jawa
Founder dan Chairman Borderless Healthcare Group sekaligus pendiri HeartSpan.ai, dr Wei Siang Yu, mengatakan LVAD seharusnya dilihat sebagai salah satu bagian dari transformasi layanan jantung, bukan sebagai teknologi yang berdiri sendiri.
Menurut dia, pengembangan layanan ke depan dapat menggabungkan berbagai komponen, mulai dari knowledge sharing cloud, kecerdasan buatan (AI), rehabilitasi hingga terapi regeneratif.
Direktur Utama RSCM Supriyanto Dharmoredjo mengatakan pengembangan layanan gagal jantung membutuhkan ekosistem yang mencakup pelayanan, pendidikan, dan penelitian.
RSCM saat ini mengembangkan Advanced Heart Failure Program sekaligus membangun tim multidisiplin untuk menangani pasien gagal jantung lanjut, termasuk melalui pengembangan program LVAD.
Bagi pemerintah, penguatan pusat rujukan seperti RSCM menjadi penting bukan hanya untuk menangani pasien, tetapi juga sebagai tempat membangun kompetensi yang nantinya dapat ditularkan ke fasilitas kesehatan lain.
Dengan pendekatan tersebut, pengembangan LVAD di Indonesia tidak berhenti pada keberhasilan melakukan prosedur medis. Tantangan berikutnya adalah memastikan semakin banyak rumah sakit memiliki kemampuan untuk mengenali pasien yang membutuhkan terapi lanjutan, merujuk mereka pada waktu yang tepat, serta melanjutkan perawatan setelah tindakan.
Pada akhirnya, teknologi hanyalah salah satu bagian dari sistem. Akses terhadap dokter dan tenaga kesehatan yang kompeten, jejaring rujukan, rehabilitasi, pemantauan jangka panjang, serta kemampuan berbagi pengetahuan menjadi faktor penting agar kemajuan layanan jantung benar-benar dapat dirasakan pasien di berbagai wilayah Indonesia.
Editor: Muhammad Sukardi