“Profesionalisme harus tercermin tidak hanya di ruang praktik, tetapi juga dalam setiap interaksi di ruang digital,” pungkasnya.
Sebelumnya, media sosial dihebohkan dengan komentar sejumlah dokter dan tenaga kesehatan yang dinilai tidak berempati terhadap pasien pengguna BPJS Kesehatan.
Kasus itu bermula saat pasien bernama Yurizal Tri Chaerawan mengunggah keluhan karena harus menunggu lama untuk mendapatkan ruang rawat inap. Unggahan tersebut kembali viral setelah dia dikabarkan meninggal dunia.
“Tunggu 8 jam belum dapat ruangan. Gak mau spill RS-nya, soalnya gue pake BPJS,” tulis Yurizal.
Unggahan itu kemudian dibanjiri komentar dari sejumlah akun yang disebut milik dokter maupun tenaga kesehatan.
“Kalau mau pindah cepat, noh ruang jenazah selalu kosong.”
Selain itu, beredar tangkapan layar komentar lain yang ditulis seorang dokter. Dalam komentarnya, dia menyebut pasien “haven’t some brain cells” atau tidak memiliki sel otak, yang dinilai sebagai bentuk penghinaan terhadap pasien.