JAKARTA, iNews.id — Sekilas, abu vulkanik terlihat tidak jauh berbeda dengan debu yang biasa menempel di jalan, kendaraan, atau teras rumah. Warnanya abu-abu, sangat halus, dan mudah beterbangan ketika terkena angin.
Namun, jangan buru-buru menganggapnya sebagai debu biasa. Ya, abu vulkanik merupakan material hasil erupsi gunung api yang tersusun dari pecahan batuan, mineral, dan material vulkanik berukuran sangat kecil. Karakter partikelnya bisa membuat mata perih, kulit mengalami iritasi, hingga mengganggu saluran pernapasan ketika terhirup.
Fenomena ini kembali menjadi perhatian setelah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda menyebabkan sebaran abu vulkanik mencapai sejumlah wilayah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Minggu (6/9/2026) mendeteksi dua klaster sebaran abu vulkanik. Salah satunya bergerak ke arah timur laut hingga selatan dan mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Klaster lainnya terpantau bergerak ke arah barat daya hingga barat laut dan mencakup sebagian Banten, Lampung, serta Bengkulu.
Lantas, apa sebenarnya abu vulkanik dan mengapa material ini bisa mengiritasi tubuh?