Sebaliknya, otak dan tubuh bekerja melalui mekanisme yang terkoordinasi untuk menjaga berbagai fungsi biologis.
Karena itu, gangguan tidur yang berlangsung terus-menerus tidak sebaiknya dianggap sekadar persoalan mengantuk pada siang hari.
"Deteksi dini melalui pemeriksaan seperti qEEG sangat membantu menentukan penanganan yang tepat," ujar dr. Oktaviana.
Pemeriksaan quantitative electroencephalography (qEEG) atau brain mapping dapat digunakan untuk memetakan aktivitas gelombang otak. Pemeriksaan tersebut menjadi salah satu pendekatan yang digunakan untuk melihat pola aktivitas otak yang berkaitan dengan kondisi seperti gangguan tidur dan stres.
Pada akhirnya, tidur bukan sekadar jeda dari aktivitas harian. Ketika tubuh terlelap, berbagai sistem justru memasuki kondisi yang mendukung pemulihan, sementara otak memproses informasi dan membantu memperkuat memori.
Itulah mengapa kebiasaan memangkas waktu tidur demi pekerjaan, hiburan atau penggunaan gadget tidak sebaiknya menjadi rutinitas.
Tidur yang cukup dan berkualitas memberi kesempatan bagi tubuh dan otak untuk menjalankan proses biologisnya secara optimal. Sebaliknya, jika gangguan tidur terjadi berulang dan mulai disertai keluhan seperti sulit berkonsentrasi, mudah lupa atau kelelahan berkepanjangan, kondisi tersebut layak mendapat perhatian lebih lanjut.